WHEN PEOPLE SAID “IPK BUKAN SEGALANYA”

 WHEN PEOPLE SAID “IPK BUKAN SEGALANYA”



Oleh : Nesti Diayu dan Nilna Aulia Abdat

Hello everybody! Gimana nih akhir pekan kalian? UAS udah kelar, nilaipun udah keluar. Tenang, meskipun ngga semua dari kita bahagia atas IPK yang ada, I just want to tell you something about "IPK Bukan Segalanya".

Namun, terlepas dari itu semua, kami punya pesan nih buat kalian; Jangan patah semangat dan terus berjuang, ya! Kamu sudah berusaha memberikan yang terbaik dan kamu hebat! Eits, tapi jika kamu masih merasa belum memberikan performa terbaik yang kamu miliki, atau dengan kata lain masih banyak malasnya di semester ini, yuk bangkit sama-sama! Dunia terlalu keras untuk menerima orang pemalas.

Saat memasuki dunia perkuliahan kita seakan dihantam dengan kenyataan, belum lagi proses pendewasaan yang banyak lika-liku, dan hidup yang tak seindah drama korea yang kebanyakan happy endingnya. Di dunia perkuliahan banyak orang yang mulai mengeluarkan taringnya, mengejar mimpi demi mimpi, dan harap demi harap yang tak terhitung jumlahnya dengan melakukan aksi nyata. Sayangnya, tak jarang juga masih banyak yang terjebak di dalam zona nyaman, yang merasa bahwa kuliah ya cuma sekedar kuliah saja, pasrah dengan dalih, “IPK tidak menentukan kesuksesan seseorang."

Memang benar IPK tidak menentukan kesuksesan seseorang. IPK tinggi tidak menjamin seseorang menjadi sukses di masa depan, IPK rendah juga tidak melulu berarti kegagalan. Sering kali IPK tinggi dianggap mengejar nilai bukan materi, padahal kenyataannya setiap orang berbeda-beda pandangan. IPK tinggi juga merupakan sebuah bentuk kesuksesan untuk seseorang yang memang menargetkan dirinya untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Oleh karena itu, kita gak boleh nge-judge seseorang yang ambisius untuk mendapatkan IPK tinggi, hanya karena kita "malas" untuk menyaingi mereka dengan mengatakan bahwa IPK bukan penentu kesuksesan di saat mereka berhak puas atas perolehan nilainya. Berbeda pemikiran boleh, tetapi saling menjatuhkan jangan ya, sob!

IPK bukan penentu kesuksesan seseorang, kalimat ini sangat penting untuk ditujukan pada kita yang memang sudah berusaha semaksimal mungkin tetapi IPK-nya masih terbilang gitu-gitu aja. Beda halnya jika kalimat ini ditujukan pada orang yang malas, yang justru kalimat ini malah digunakan sebagai penguat rasa malasnya. 

Banyak orang yang mendapatkan IPK rendah tetapi menjadi orang sukses, akan tetapi perlu digaris-bawahi bahwa tidak ada orang malas yang berhasil mencapai kesuksesan (kecuali ada orang dalam, ups). Lucu saat kamu sadar memiliki IPK rendah, pemalas, gak ada niatan untuk berubah, lalu dengan gagahnya berkata, "IPK bukan penentu kesuksesan seseorang." Pftt.

Bob Sadino pernah berkata, “Kalau mahasiswa IPK-nya sudah 3 koma itu alamatnya jadi karyawan. Kalau mau jadi pengusaha, IPK jeblok saja, karena dengan begitu mau tak mau kamu akan ditolak perusahaan dan terpaksa membuka usaha sendiri.”

Ungkapan ini tentunya menimbulkan pro-kontra di kalangan banyak orang, terutama mahasiswa. Seperti yang telah kita bahas sebelumnya, ada yang beranggapan bahwasanya IPK sangat penting untuk masa depan mereka, ada pula yang merasa bahwa IPK rendah tak akan mempengaruhi kesuksesan mereka kedepannya. Namun, sangat  disayangkan, faktanya bahwa kutipan dari Bob Sadino ini malah digunakan sebagai; pembenaran “kemalasan” para pemuda untuk meraih IPK yang tinggi, menjadi judgement untuk menyindir teman sebaya mereka yang terlalu ambis dengan nilai IPK, dan mirisnya menjadikan mereka “bangga” dengan rendahnya IPK yang terpampang di KHS mereka. Itulah yang terjadi saat kutipan dari Bob Sadino ini ditelan mentah-mentah oleh para mahasiswa.

Tidak salah jika banyak para pemuda mengagungkan kutipan ini. Toh yang berbicara ialah pengusaha yang hartanya tak terhitung jumlahnya. Membuat mereka termotivasi untuk sama-sama menjeblokkan IPK dan menjadi pengusaha, katanya. Jack Ma pernah berkata, “Ketika kamu miskin, belum sukses, semua kata-kata bijakmu terdengar seperti kentut. Akan tetapi ketika kamu kaya dan sukses, kentutmu terdengar sangat bijak dan menginspirasi.” 

Memang Bob Sadino sukses jadi pengusaha tok karena IPK rendahnya?

Di samping “memiliki IPK yang rendah” Bob Sudino ialah pribadi yang rajin, memiliki relasi, previlage, dan harta warisan. Jadi pertanyaannya adalah “Apakah IPK rendah itu satu-satunya hal yang membantunya meraih kesuksesan?” “Apa Bob Sadino tidak menggunakan otaknya dalam mengelola usahanya?” Jelas tidak. Kesuksesannya dalam berusaha ditentukan oleh tindakan dan pikirannya. IPK-nya memang tak berpengaruh, tetapi jika kamu memutuskan untuk ikut menjatuhkan IPK dengan dalih ingin menjadi pengusaha seperti Bob Sudino, maka sah-sah saja selama kamu juga memiliki pemikiran juga warisan sebagaimana yang didapatkan Bob Sadino saat usianya 19 tahun. Tanpa dibekali pemikiran yang matang dalam mengatur strategi di masa depan, tidak mengatur planning dan akan jadi apa kamu ke depannya, serta dengan pikiran bahwa tak penting memiliki IPK tinggi, itu sama saja dengan bunuh diri.

Terlalu membanggakan satu kutipan yang beliau ucapkan, tetapi bahkan kita tak tahu perjalanan Bob Sadino sebelum menjadi pengusaha dan sukses dalam karirnya. Sedikit cerita, walau terlahir sebagai orang berada Bob Sadino tidak mau berleha-leha. Ia sempat menjadi kuli bangunan, supir mobil sewaan, sampai pedagang telur jalanan. Lah, itu bukan karyawan namanya? Jadi beliau gak melulu IPK rendah terus besoknya sukses meruah.

Di kesempatan lainnya bahkan Bob Sudino sendiri selalu menekankan pada calon pengusaha untuk jadi dirinya sendiri, jangan pernah jadi mesin fotokopi, sesukses apapun orang yang ingin kamu fotokopi. Dengan kata lain, beliau berusaha menekankan, "Lu pada kalo mau sukses kayak gue jalannya gak mesti dengan ancurin tu IPK, selama lu bisa lakuin lebih why not brader?!"

Pikiran-pikiran naif soal IPK rendah lebih baik dari IPK tinggi itu harusnya dikoreksi. Gak perlu IPK rendah juga kalau mau jadi pengusaha. Bukannya jadi pengusaha dengan IPK tinggi malah lebih membanggakan? Coba deh kita tilik Sandiaga Uno atau Erick Thohir. Mereka tak mengabaikan pendidikan demi status pengusaha. Keduanya berjalan beriringan. Pendidikan dan pengusaha, kedua hal itu tak bertolak belakang.

Bukankah punya IPK tinggi juga merupakan bentuk balas budi untuk orang yang dengan susah payahnya membayarkan kuliah kita dengan jerih payahnya?

Intinya, IPK tinggi tidak melulu soal terkuncinya kesuksesan-kesuksesan yang lebih besar di masa depan dan dengan IPK rendah belum tentu bakal bikin kamu auto jadi Bob Sadino, Bill Gates, atau Mark Zuckerberg.

Namun muncul lagi sanggahan, “Bagaimana jika IPK tinggi tapi karirnya tidak sukses?” Ya, jawabannya ada beberapa kemungkinan: (1) dia bekerja di luar ilmunya; (2) dia pintar tapi kurang berinteraksi sosial; (3) nilai IPK yang tinggi tersebut didapatkan secara tidak jujur; dan (4) gengsi / mudah menyerah. Alasan yang terakhir ini banyak terjadi, dikarenakan terlalu membanggakan IPK tingginya, diberi pekerjaan pas-pasan bawaannya gengsi, di satu sisi ia akan mudah menyerah jika tak menemukan pekerjaan yang ia inginkan. Lagi-lagi ini adalah masalah mindset atau cara berpikir.

IPK tinggi memang tidak dapat menjamin kesuksesan karir seseorang dalam jangka panjang. Oleh karena itu masih perlu dilengkapi dengan kemampuan komunikasi dan interaksi sosial atau ‘’kecerdasan emosional’’. Kemampuan ini bisa diasah selama kuliah melalui kegiatan ekstrakurikuler dan lebih perlu ditajamkan lagi pada saat sudah bekerja. Sebenarnya yang lebih penting adalah seberapa banyak ilmu pengetahuan yang berhasil diserap selama kuliah, seberapa luas dan intensif jaringan yang mampu dibangun selama kuliah, dan citra positif yang terekam dalam benak orang-orang di sekitar kita. Sehingga memudahkan langkah kita kedepannya menuju kesuksesan terlepas dari tinggi rendahnya IPK. Namun saya tekankan sekali lagi, bisa dan berusaha memiliki IPK yang tinggi tidak akan merugikan kamu sama sekali dan IPK rendah tak menjamin kamu jadi pengusaha dalam satu kedipan mata.

Terlepas dari IPK tinggi atau rendah, yang paling utama dan berpengaruh ialah attitude, pengalaman, dan kemampuan. IPK tinggi harus kita iringi dengan pengembangan skill, attitude yang baik dengan menerapkan jujur dan disiplin, serta mengasah kemampuan dalam bidang yang  kita geluti. Dalam artian, janganlah kita merasa puas dan berbangga diri hanya dengan IPK tinggi dan menganggap remeh orang yang memiliki IPK rendah. IPK tinggi memang kita sebut sebagai sebuah keberhasilan, tapi terlalu dini untuk merasa puas dan cukup hanya dengan hal itu. 

Teruntuk kita yang masih mendapatkan IPK rendah dan tak pernah menyerah, itu bukanlah kegagalan yang berarti selama kita tidak merugikan orang lain dan terus berusaha menghindari sifat malas, maka kesuksesan itu sangat dekat jaraknya. Ingat kata-kata ini, kita tidak tersandung oleh batu besar akan tetapi kita terandung karena batu kecil atau kerikil. Kemalasan adalah hal kecil, tetapi dapat membawa dampak yang begitu besar dan jangan pernah meremehkan apapun bahkan hal kecil sekalipun.

Untuk kita, yang masih saja bermalas-malasan, mau sampai kapan? Mau sampai kapan tugas hasil joki, copas sana-sini, dan ngezoom sambil ngopi? Kita sebenarnya bisa jika kita berusaha, jika kita mau untuk memulai dan melakukannya. “Jika orang lain bisa kenapa harus saya” adalah kata calon orang yang gagal, karena orang sukses berkata “Jika orang lain bisa maka saya juga harus bisa dan jauh lebih baik melampaui batas”.  So, jangan stuck di satu tempat aja, ya. Mulai bangkit dan lakukan apa yang kamu bisa! Lawanmu sudah jauh berlari di depan sana dan kamu masih berjalan dengan satu kaki. Tidak ada kata terlambat. Kura-kura pun dapat mengalahkan kelinci saat berlari.

Fighting, ya! Mari kita sama-sama lebih produktif lagi, menemukan hobi-hobi baru, dan melakukan hal-hal bermanfaat serta menambah ilmu. Mulailah dengan menantang dirimu sendiri untuk merubah kebiasaan tidak baikmu. Nyaman tak selamanya aman, GOOD LUCK KAWAN!

 

 

Selamat Berproses kawan-kawan!

WITH LOVE 2N..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Guru sebagai Penggerak dalam Memajukan Sumber Daya Manusia di Era Globalisasi: Menyikapi Dekadensi Moral di Indonesia

FORMASI (Forum Mahasiswa Pengkaji Konstitusi) FH UNRAM Sukses Gelar Lomba Debat Mahasiswa dan Lomba Esai Mahasiswa Tingkat Nasional

Menyoroti Kasus Pelecehan Seksual oleh Agus Sang Difabel Tanpa Tangan