HEI PENGECUT! JANGAN BERHENTI BERJUANG

 HEI PENGECUT! JANGAN BERHENTI BERJUANG



By : Thoby Araya Kattsoff

Perjuangan merupakan hal yang penting dalam hidup tiap insan. Perjuangan pada tiap zaman berbeda, perjuangan pada tiap orang pun berbeda. Pada zaman kolonial, perjuangan erat hubungannya dengan pemegang senjata dan cita-cita untuk dapat menghilangkan kolonialisme dalam masyarakat. Pada zaman ini dimana penjajahan sudah berkurang drastis, makna perjuangan menjadi lebih luas sudah tidak lagi hanya berbicara tentang mengangkat senjata. Tapi ada satu hal yang tak pernah berubah dari sebuah perjuangan yakni jiwa pantang menyerah. Untuk meraih cita-cita dari sebuah perjuangan manusia tidak boleh menyerah. B.J. Habibie pernah mengungkapkan bahwa hidup bagi beliau layaknya menaiki sepeda, kamu harus tetap menggoes (bergerak) untuk bisa selamat. Artinya bila seorang mau menjalani hidup ia tak boleh berhenti, ia harus bergerak, bila dia berhenti maka ia akan mati (bukan secara literal tentunya). Hal ini tentu menjadi sebuah pernyataan yang sangat jelas dan tegas betapa pentingnya kita harus terus berjuang (bergerak) dalam menggapai cita-cita yang kita impikan. Intinya jangan menyerah. Menyerah berarti berhenti dan berhenti berarti mati. Mati atas impianmu, mati atas idealisme mu, mati atas janji pada diri sendiri.

Dewasa ini, nampaknya jiwa pantang menyerah mulai menghilang dari diri para pemudanya. Banyak pemuda yang langsung pergi dari cita-cita nya hanya karena ia gagal satu kali, padahal Thoma Alva Edison melalui 1000 kegagalan dalam perjuangannya menemukan sebuah lampu. Pemuda zaman ini rasanya telah menjadi pengecut dengan bersembunyi dibalik kata “realistis” yang seakan membenarkan tindakan menyerahnya. Padahal dia masih memiliki 1001 kesempatan untuk menggapai impiannya. Namun mentalnya yang lemah membuat mereka enggan untuk terus berjuang. Padahal sesungguhnya kekuatan mental bukan hal yang alami melainkan hal yang dilatih, semakin sering kamu mengalami penolakan dan kegagalan dan terus bangkit, semakin kuat dirimu.

Saya akan menceritakan sebuah cerita tentang seorang pelari yang tidak pernah menyerah dalam berjuang. Si pelari ini adalah seorang pelari yang selalu mendapatkan juara 1 lomba lari dalam karir kompetisinya sejak SMA kelas 1 sampai kuliah semester 1, dia tak pernah kalah dan dia tidak pernah berhenti untuk menaikan standar pencapaiannya. Semakin tinggi yang dia dapat, maka semakin tinggi lagi yang dia harapkan, dia tidak boleh berhenti karena dia sudah menentukan target akhirnya yaitu menjadi juara nasional. Namun pada semester 2 dia merasakan kekalahan pertamanya seumur hidup yang amat menyakitkan baginya karena dia tidak kalah dalam perlombaan lari, tapi dia kalah dalam seleksi lari. Hal itu bukan membuatnya patah semangat, justru membuat pelari tersebut semakin haus, dia mempersiapkan diri untuk melakukan seleksi tahun depan, namun pelari tersebut kembali kalah dan kali ini lebih menyakitkan karena ia kalah dari juniornya sendiri. Kekalahan itu benar-benar membekas sehingga dia sempat memutuskan untuk berhenti berlari. Satu tahun sudah pelari itu tidak berkompetisi lagi namun gejolak kompetisi dalam dirinya semakin tinggi, dia bukan semakin tenang namun justru semakin haus, sampai akhirnya pelari tersebut mencoba untuk mengikuti lomba lari lagi, kali ini dia lolos seleksi namun baru bertanding sekali, pelari tersebut sudah kalah. Tapi hal itu tidak membuatnya berhenti “I NEED MORE” begitu dalam pikirannya, dia mencoba mengikuti lomba lari yang paling bergengsi di negaranya namun lolos penyisihan pun tidak. Dan akhirnya dia mencoba lomba lari terakhir. Rasa haus akan kompetisi dan kemenangan sudah meronta-ronta dalam dirinya, dia tak boleh kalah dia harus menang dan akhirnya pelari tersebut lolos ke tahap semifinal. Di semifinal pelari tersebut bertemu dengan pelari dari kampus besar yang amat terkenal dan perlombaan benar-benar ketat dan berdarah-darah namun pelari tersebut mengerahkan segala yang ia miliki sehingga dia lolos ke babak final. Lolos ke babak final berarti sudah pasti mendapatkan juara nasional, meski belum tentu juara 1. Pelari tersebut berjuang dengan sangat gigih, dia latihan dengan sangat ketat, namun sayang, dia belum beruntung untuk mendapat juara 1 nasional. Pelari tersebut sesungguhnya ingin terus mencoba untuk mengejar juara 1 nasional, namun dia juga harus menyelesaikan kuliahnya sehingga alih-alih berhenti berlari, ia memutuskan untuk mengabdikan dirinya untuk dapat melatih junior-juniornya. Apakah dia berhenti? Itu tergantung perspektif mu.

Dari cerita diatas, kita setidaknya mengetahui apa yang akan terjadi bila seorang berhenti berjuang, mungkin hidupnya akan menjadi sangat hambar. Maka sebagai seorang pemuda penerus bangsa, HARAM hukumnya bila kita berhenti berjuang dan menyerah terhadap cita-cita kita. Mungkin proses yang kita lewati berbeda-beda, namun percayalah tidak ada salahnya bila kita terus berjuang, namun berjuang bukan berarti membabi-buta tanpa melihat hal lain disekitar. Realistis bukan berarti menyerah terhadap kemampuan dan cita-citamu, realistis harus jelas alasannya bila kamu masih punya bahwa waktu, maka gunakan waktu itu dan bila waktumu sudah habis, maka kamu boleh realistis.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Guru sebagai Penggerak dalam Memajukan Sumber Daya Manusia di Era Globalisasi: Menyikapi Dekadensi Moral di Indonesia

FORMASI (Forum Mahasiswa Pengkaji Konstitusi) FH UNRAM Sukses Gelar Lomba Debat Mahasiswa dan Lomba Esai Mahasiswa Tingkat Nasional

Menyoroti Kasus Pelecehan Seksual oleh Agus Sang Difabel Tanpa Tangan