AWAS!!! 3 KESALAHAN FATAL MAHASISWA SAAT KULIAH

Awas!!! 3 Kesalahan Fatal Mahasiswa Saat Kuliah



Oleh : Mahendra Wijaya Kusuma


                Dewasa ini banyak sarjana yang memilih diam karena tidak memiliki pengalaman untuk bekerja yang pada akhirnya berprofesi menjadi pengangguran atau bahkan menjadi sampah masyarakat. Pernahkah terpikirkan dalam benak kita semua, mengapa hal tersebut dapat terjadi? Apakah kita masih beranggapan bahwa semua itu terjadi karena bentuk kegagalan dari proses pendidikan perguruan tinggi yang diterapkan di negeri ini ? Tentu itu semua adalah anggapan yang salah, karena sejatinya perguruan tinggi tidak akan menjamin pekerjaan untuk seluruh lulusannya melainkan para lulusan inilah yang harus menjamin dirinya untuk mampu bersaing didalam dunia kerja.

           Apalagi jika kita bercermin kepada data BPS indonesia saat ini menunjukkan bahwa pengangguran di negeri ini masih berada dikisaran 2,5 juta lebih. Data ini sudah cukup menunjukkan bahwa setiap tahunnya jumlah pengangguran di negeri ini tidak kunjung berkurang. Faktor terbesar yang menyebabkan para sarjana menjadi penyumbang terbesar angka pengangguran di negeri ini adalah dikarenakan 3 kesalahan fatal mereka saat menempuh pendidikan diperguruan tinggi. Berikut adalah 3 kesalahan fatal tersebut :

1.   Mahasiswa sering mengesampingkan nilai keterampilan yang seharusnya ia bawa nanti kedalam dunia kerja. Sebenarnya selain dituntut untuk mampu menguasai materi kuliah seorang mahasiswa juga dituntut untuk mempertajam keterampilannya sendiri, sebut saja keterampilan intrapersonal, verbal dan banyak lagi tuntutan keterampilan lainnya. Menurut H. Zulkifli SE.,MM selaku pemateri dalam seminar Pemuda Milenial Mengguncang Dunia yang dilaksanakan pada Minggu 19 september 2021 di Lombok Tengah lalu mengatakan bahwa keterampilan verbal bisa diperoleh dengan berorganisasi atau dengan mengikuti ajang kompetisi, meski ada yang memiliki bakat alami tetapi itu hanya 1/100 dari mahasiswa yang ada. Sarjana yang miskin keterampilan verbal akan banyak minder ketika mencoba keluar mencari kerja. Namun banyaknya asumsi yang mengatakan bahwa dengan berorganisasi maka tidak akan cepat lulus dan sebagainya, alhasil banyak mahasiswa yang memilih untuk hanya menerima materi dikelas tanpa mengikuti organisasi. Inilah kesalahan fatal yang dilakukan oleh para sarjana ketika masih menjadi seorang mahasiswa.

2.  Ketika menjadi mahasiswa, para sarjana sering memberikan konsep yang sederhana terhadap ekspektasinya sendiri. Tidak sedikit mahasiswa yang memberikan konsep sederhana untuk meraih cita-cita mereka sendiri, salah satu bentuk kasus yang sering terjadi adalah banyak mahasiswa yang menggampangkan soal kemudahan dalam mendapatkan pekerjaan, namun ketika bertemu dengan realita di lapangan, para sarjana ini malah menjadi kerupuk yang seolah-olah tersentuh dengan belayanan angin. Seharusnya seorang mahasiswa mampu memahami peta lapangan dunia kerja sebelum terjun ke lapangan untuk mempraktikkan segala yang telah diterimanya di perguruan tinggi. H. Zulkifli, SE.,MM juga kembali menegaskan bahwa dunia kuliah adalah dunia koneksi, karena itu mahasiwa seharusnya juga mengedepankan koneksi atau relasi dan tidak hanya terbatas kepada materi namun miskin implementasi.

3.     Ketika menjadi mahasiswa, para sarjana lebih kita ini malah Kecendrungan berpikir sebagai pencari kerja dari pada menjadi pencipta kerja. Tidak dapat kita pungkiri bahwa hampir 90% mahasiswa bereksfektasi menjadi pencari kerja setelah wisuda, namun sedikit diantara para mahasiswa yang mengembangkan pola pikir sebagai pencipta lapangan kerja. Padahal data BPS Indonesia menunjukkan bahwa hampir 52% lulusan setiap tahunnya menjadi pengangguran karena jumlah formasi pekerjaan yang terbatas. Maka, pola pikir yang masih sempit ini yang masih menjadi budaya mahasiswa. Padahal menjadi penyedia lapangan kerja jauh lebih efisien jika dibandingkan dengan memilih peran sebagai pencari kerja.

         Penulis hanya ingin berpesan bahwa mari kita perbaiki pola pikir kita sebagai mahasiwa, agar supaya ketika lulus nanti kita akan menjadi sarjana yang sesungguhnya dan siap dengan segala bentuk persaingan dunia kerja. Meski 1000 orang khawatir dengan dunia kerja namun kita harus tanamkan rasa percaya dalam diri kita sendiri bahwa dengan modal dan pengalaman yang kuat sebagai mahasiswa maka kita akan menjadi orang sukses kedepan. Sekian dan terima kasih.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Guru sebagai Penggerak dalam Memajukan Sumber Daya Manusia di Era Globalisasi: Menyikapi Dekadensi Moral di Indonesia

FORMASI (Forum Mahasiswa Pengkaji Konstitusi) FH UNRAM Sukses Gelar Lomba Debat Mahasiswa dan Lomba Esai Mahasiswa Tingkat Nasional

Menyoroti Kasus Pelecehan Seksual oleh Agus Sang Difabel Tanpa Tangan